Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat laporan hasil wawancara. Hal-hal yang harus dicantumkan dalam laporan hasil wawancara adalah waktu berlangsungnya wawancara. Interviewer mencantumkan waktu dimulainya wawancara sampai berakhirnya wawancara. Interviewer perlu mencantumkan waktu hingga menit-menitnya. Selain itu, laporan hasil wawancara harus mencantumkan tempat berlangsungnya wawancara, misalnya di ruang konseling, dan lain-lain. Penting juga bagi interviewer untuk mencantumkan biodata interviewee. Nama interviewee cukup ditulis dengan inisial saja, misalnya A. Mengapa nama interviewee cukup ditulis dengan inisial? karena ini menyangkut masalah kode etik, kemamanan, dan supaya interviewee tidak merasa malu. Alamat interviewee juga dimasukkan ke dalam biodata interviewee, tetapi ditulis secara global saja, misalnya Tanjung Duren.
Ada beberapa hal yang dilaporkan di laporan hasil wawancara. Tiga diantaranya adalah
1. Hasil wawancara
Hasil wawancara memuat cerita subyek selama proses wawancara berlangsung. Yang harus dituliskan adalah cerita subyek, bukan cerita mengenai proses wawancara Anda. Contoh hasil wawancara yang salah misalnya pertama-tama pewawancara menyiapkan peralatan tulis dan membuat pertanyaan. Setelah itu, pewawancara mulai bertanya kepada subyek mulai dari biodata. Contoh hasil wawancara yang benar adalah subyek adalah perempuan berusia 18 tahun yang saat ini masih seorang siswi di sekolah x.
Laporan hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subyek dengan urutan yang sistematis (bukan berdasarkan urutan cerita subyek). Contoh hasil wawancara yang salah misalnya subyek mengatakan bahwa ia tidak dapat berkonsentrasi belajar di rumah. Awalnya orantuanya selalu bertengkar dan subyek tidak dapat berkonsentrasi belajar ketika mendengar suara orangtua. Contoh hasil wawancara yang benar misalnya Subyek mengemukakan bahwa setiap hari dari pagi hingga malam, orangtuanya selalu bertengkar dan mengeluarkan suara yang sangat kencang. Subyek merasa tidak dapat berkonsentrasi karena mendengar suara yang mengganggu tersebut.
2. Observasi subyek
Hasil observasi bukan merupakan kesimpulan atau penilaian Anda pribadi mengenai subyek. Bahasa yang digunakan harus konkret, spesifik, dan faktual. Contoh laporan yang salah misalnya subyek terlihat berhalusinasi ketika berbiacara dengan teman-temannya. Contoh laporan yang benar misalnya ketika bersama teman-teman di rumah sakit jiwa, subyek berbiacara bahwa subyek berada di Mekah. Subyek berdoa, telihat kedua tangan terbuka di depan subyek dan berdiri di depan pintu sambil mengucapkan kata-kata seperti berdoa "bismilah".
Mental Status Examination (MSE) adalah salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh pewawancara atau observer, mengenai fungsi mental klien saat ini. MSE terbagi ke dalam dua area besar yaitu aspek perliaku dan aspek berpikir. Dalam setting observasi untuk level wawancara, pembahasan akan berfokus pada aspek perilaku saja, MSE - Behavioral Aspects, terdiri dari:
Tampilan dan perilaku umum, seperti karakteristik fisik, pakaian dan kebersihan, ekspresi wajah, kesadaran, aktivitas motor, suara dan sikap.
1. Hasil wawancara
Hasil wawancara memuat cerita subyek selama proses wawancara berlangsung. Yang harus dituliskan adalah cerita subyek, bukan cerita mengenai proses wawancara Anda. Contoh hasil wawancara yang salah misalnya pertama-tama pewawancara menyiapkan peralatan tulis dan membuat pertanyaan. Setelah itu, pewawancara mulai bertanya kepada subyek mulai dari biodata. Contoh hasil wawancara yang benar adalah subyek adalah perempuan berusia 18 tahun yang saat ini masih seorang siswi di sekolah x.
Laporan hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subyek dengan urutan yang sistematis (bukan berdasarkan urutan cerita subyek). Contoh hasil wawancara yang salah misalnya subyek mengatakan bahwa ia tidak dapat berkonsentrasi belajar di rumah. Awalnya orantuanya selalu bertengkar dan subyek tidak dapat berkonsentrasi belajar ketika mendengar suara orangtua. Contoh hasil wawancara yang benar misalnya Subyek mengemukakan bahwa setiap hari dari pagi hingga malam, orangtuanya selalu bertengkar dan mengeluarkan suara yang sangat kencang. Subyek merasa tidak dapat berkonsentrasi karena mendengar suara yang mengganggu tersebut.
2. Observasi subyek
Hasil observasi bukan merupakan kesimpulan atau penilaian Anda pribadi mengenai subyek. Bahasa yang digunakan harus konkret, spesifik, dan faktual. Contoh laporan yang salah misalnya subyek terlihat berhalusinasi ketika berbiacara dengan teman-temannya. Contoh laporan yang benar misalnya ketika bersama teman-teman di rumah sakit jiwa, subyek berbiacara bahwa subyek berada di Mekah. Subyek berdoa, telihat kedua tangan terbuka di depan subyek dan berdiri di depan pintu sambil mengucapkan kata-kata seperti berdoa "bismilah".
Mental Status Examination (MSE) adalah salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh pewawancara atau observer, mengenai fungsi mental klien saat ini. MSE terbagi ke dalam dua area besar yaitu aspek perliaku dan aspek berpikir. Dalam setting observasi untuk level wawancara, pembahasan akan berfokus pada aspek perilaku saja, MSE - Behavioral Aspects, terdiri dari:
Tampilan dan perilaku umum, seperti karakteristik fisik, pakaian dan kebersihan, ekspresi wajah, kesadaran, aktivitas motor, suara dan sikap.
- Apakah klien terlihat sehat dan sesuai dengan usianya?
- kesan umum: bersih dan rapi? atau sebaliknya?
- Bagaimana ekspresi umum klien selama wawancara?
- Bagaimana reaksi klien terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya?
- Bagaimana sikap tubuh klien selama wawancara?
- Bagaimana volume, tekanan suara, intonasi dan tempo bicara klien?
- Bagaimana sikap klien terhadap interviewer?
Mood terkait dengan jenis-jenis emosi, perubahan mood klien, emosi klien sesuai atau tidak dengan konteks, dan derajat.
flow of thought, diperoleh melalui observasi alur bicara klien
3. Refleksi sebagai pewawancara
Refleksi sebagai pewawancara sangat berguna untuk intropeksi diri dan pengembangan diri sebagai wawancara. Erat kaitannya dengan teori-teori yang telah dipelajari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar