Senin, 30 September 2013

Laporan Hasil Wawancara

     Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat laporan hasil wawancara. Hal-hal yang harus dicantumkan dalam laporan hasil wawancara adalah waktu berlangsungnya wawancara. Interviewer mencantumkan waktu dimulainya wawancara sampai berakhirnya wawancara. Interviewer perlu mencantumkan waktu hingga menit-menitnya. Selain itu, laporan hasil wawancara harus mencantumkan tempat berlangsungnya wawancara, misalnya di ruang konseling, dan lain-lain. Penting juga bagi interviewer untuk mencantumkan biodata interviewee. Nama interviewee cukup ditulis dengan inisial saja, misalnya A. Mengapa nama interviewee cukup ditulis dengan inisial? karena ini menyangkut masalah kode etik, kemamanan, dan supaya interviewee tidak merasa malu. Alamat interviewee juga dimasukkan ke dalam biodata interviewee, tetapi ditulis secara global saja, misalnya Tanjung Duren.
     Ada beberapa hal yang dilaporkan di laporan hasil wawancara. Tiga diantaranya adalah
    1.  Hasil wawancara
     Hasil wawancara memuat cerita subyek selama proses wawancara berlangsung. Yang harus dituliskan adalah cerita subyek, bukan cerita mengenai proses wawancara Anda. Contoh hasil wawancara yang salah misalnya pertama-tama pewawancara menyiapkan peralatan tulis dan membuat pertanyaan. Setelah itu, pewawancara mulai bertanya kepada subyek mulai dari biodata. Contoh hasil wawancara yang benar adalah subyek adalah perempuan berusia 18 tahun yang saat ini masih seorang siswi di sekolah x.
     Laporan hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subyek dengan urutan yang sistematis (bukan berdasarkan urutan cerita subyek). Contoh hasil wawancara yang salah misalnya subyek mengatakan bahwa ia tidak dapat berkonsentrasi belajar di rumah. Awalnya orantuanya selalu bertengkar dan subyek tidak dapat berkonsentrasi belajar ketika mendengar suara orangtua. Contoh hasil wawancara yang benar misalnya Subyek mengemukakan bahwa setiap hari dari pagi hingga malam, orangtuanya selalu bertengkar dan mengeluarkan suara yang sangat kencang. Subyek merasa tidak dapat berkonsentrasi karena mendengar suara yang mengganggu tersebut.
   2. Observasi subyek
     Hasil observasi bukan merupakan kesimpulan atau penilaian Anda pribadi mengenai subyek. Bahasa yang digunakan harus konkret, spesifik, dan faktual. Contoh laporan yang salah misalnya subyek terlihat berhalusinasi ketika berbiacara dengan teman-temannya. Contoh laporan yang benar misalnya ketika bersama teman-teman di rumah sakit jiwa, subyek berbiacara bahwa subyek berada di Mekah. Subyek berdoa, telihat kedua tangan terbuka di depan subyek dan berdiri di depan pintu sambil mengucapkan kata-kata seperti berdoa "bismilah".
     Mental Status Examination (MSE) adalah salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh pewawancara atau observer, mengenai fungsi mental klien saat ini. MSE terbagi ke dalam dua area besar yaitu aspek perliaku dan aspek berpikir. Dalam setting observasi untuk level wawancara, pembahasan akan berfokus pada aspek perilaku saja, MSE - Behavioral Aspects, terdiri dari:
     Tampilan dan perilaku umum, seperti karakteristik fisik, pakaian dan kebersihan, ekspresi wajah, kesadaran, aktivitas motor, suara dan sikap.

  • Apakah klien terlihat sehat dan sesuai dengan usianya?
  • kesan umum: bersih dan rapi? atau sebaliknya?
  • Bagaimana ekspresi umum klien selama wawancara?
  • Bagaimana reaksi klien terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya?
  • Bagaimana sikap tubuh klien selama wawancara?
  • Bagaimana volume, tekanan suara, intonasi dan tempo bicara klien?
  • Bagaimana sikap klien terhadap interviewer?
     Mood terkait dengan jenis-jenis emosi, perubahan mood klien, emosi klien sesuai atau tidak dengan konteks, dan derajat.
     flow of thought, diperoleh melalui observasi alur bicara klien
    3. Refleksi sebagai pewawancara
     Refleksi sebagai pewawancara sangat berguna untuk intropeksi diri dan pengembangan diri sebagai wawancara. Erat kaitannya dengan teori-teori yang telah dipelajari. 

Selasa, 24 September 2013

Social History

     Pada tanggal 18 September 2013, Ibu Henny mengajarkan di kelas pentingnya social history dari interviewee. Sebelum kita membahas kenapa pentingnya social history, saya akan mencoba membahas ulang apa itu social history yang sudah dijelaskan oleh Ibu Henny.
     Untuk mendapatkan data mengenai social history interviewee, interviewer membutuhkan lebih dari satu sesi. Social history menyediakan data tentang klien berkembang. Tidak ada orang yang mengalami pengalaman dalam cara yang sama. Masalah yang dihadapi interviewee tidak hanya disebabkan oleh faktor bawaan (nature) namun juga oleh faktor lingkungan (nurture). Seseorang atau sesuatu yang telah terjadi dapat memberikan kontribusi pada munculnya masalah interviewee.
     Interviewer harus mendapatkan informasi tentang beberapa area, jika memungkinkan. Family history, interviewer dapat menayakan tentang dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan, dan menanyakan asal usul keluarga. Hal ini penting karena bisa saja gejala atau masalah perilaku diturunkan oleh anggota keluarganya.
     Educational history. Setelah keluarga, pengalaman sekolah sangat penting dalam pembentukan individu. Banyak orang yang sukses dalam pekerjaan tetapi memiliki prestasi yang tidak bagus dalam sekolah. Mungkin ada beberapa klien yang melaporkan prestasi yang bagus, mendapatkan beasiswa, tetapi menginggalkan hal-hal tersebut demi penggunaan obat. Seseorang yang berhasil dalam membentuk persahabatan di sekolah biasanya akan berlanjut memilki keberhasilan dalam membentuk hubungan di kehidupan mendatang.
     Job history. Sebaiknya interviewer tidak menanyakan pekerjaan interviewee dengan kalimat menyinggung seperti "Apa pekerjaan Anda saat ini?" karena jika interviewee tidak bekerja maka pertanyaan tersebut akan membuat interviewee tidak nyaman. Interviewer dapat menggunakan pertanyaan "Apa kesibukan Anda setiap hari?".
     Marital history. Mengetahui tentang berapa kali interviewee menikah. Marital history juga mempelajari hubungan interviewee. Marital status seperti single, married, divorce, dan window/er.
     Interpersonal relationship. Membantu klien berbicara bagaimana hubungannya.
     Recreational preferences.
     Sexual history. Topik seksual adalah sensitif. Interviewer harus berhati-hati dalam memilih pertanyaan. Seperti orientasi seksual, penyiksaan seksual, masalah seksual, dan lain-lain.
     Medical history. Meliputi rawat jalan, riwayat rawat inap, riwayat operasi, nama dan dosis obat-obatan yang dikonsumsi, dan sebagainya.
     Psychiatric/psychotherapy history. Sangat penting ketika mengetahui klien didiagnosa dengan gangguan.
     Legal history. 
     Alcohol and subtance use/abuse.
     Nicotine or cafein consumption.
     Personal and social history of childhood and adolescence. Bagaimana mereka tumbuh, kesehatan, pendidikan, sejarah medis, sejarah keluarga, dan lain-lain.

Rabu, 18 September 2013

Keterampilan Wawancara

     Teknik wawancara banyak digunakan dibidang mana saja.  Semua orang memakai teknik wawancara dengan tujuan umum untuk memperoleh informasi. Informasi yang ingin didapat berbeda-beda. Di bidang PIO misalnya, informasi yang ingin didapatkan tentang latar belakang karyawan yang baru masuk kerja. Banyak hal yang saya pelajari di kelas teknik wawancara, mulai dari cara membina rapport dan lain-lain. Selain itu, Bu Henny menceritakan pengalaman-pengalaman yang menarik ketika beliau melakukan wawancara.
     Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan wawancara adalah menentukan subjek yang mau diwawancarai. Setelah itu, menentukan topik apa yang ingin ditanyakan dan interviewer mulai membuat pertanyaan. Selain itu, dibutuhkan peralatan tulis atau tape recorder.
     Keterampilan yang perlu diperhatikan dalam wawancara. Pertama adalah kemampuan membina rapport. Rapport merupakan dasar dari wawancara, karena disini kita mulai membina hubungan dengan klien. Membina rapport yang baik sangat penting. Karena ketika kita membina rapport dengan baik, klien akan lebih terbuka ketika bercerita. Interviewer dapat memulai dengan senyum hangat, sambutan yang bersahabat, jabat tangan, dan percakapan kecil. Interviewer juga harus memperhatikan budaya klien, misalnya budaya klien ketika bersalaman.
       Kedua adalah empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh klien. Kuncinya untuk proses empati adalah fokus kepada klien setiap saat.
     Ketiga adalah attending behavior, jadi interviewer harus memberikan klien waktu untuk menceritakan tentang diri mereka. Interviewer harus memberikan atensi. Ketika di kelas teknik wawancara, saya disuruh bu Henny untuk berpasangan dengan teman sebelah. Jadi tugas kami adalah salah satu bercerita (terserah apa saja topiknya), dan salah satu teman tidak mendengarkan (bisa bermain hp atau melakukan aktivitas lain). Ketika saya yang mendapatkan giliran untuk bercerita, sedangkan teman saya tidak mendengar sama sekali. Saya jadi menutup diri untuk berbicara. Nah.. Anda bisa mempraktikkannya di rumah. Jadi penting bagi interviewer untuk memberikan atensi kepada klien.
     Keempat adalah teknik bertanya. Interviewer diharapkan bertanya open question. sifatnya tidak mengarahkan jadi klien dibebaskan untuk mengekspresikan perasaannya. kelima adalah keterampilan observasi dan keenam adalah active listening.

Senin, 16 September 2013

Hasil Wawancara Praktisi

     KESIMPULAN WAWANCARA PRAKTISI

     Dalam blog ini, saya akan membahas mengenai kesimpulan hasil wawancara dengan beberapa praktisi (klinis anak, Klinis dewasa, PIO, dan Pendidikan) yang telah dipresentasikan pada tanggal 4 September 2013 dan 11 September 2013. Pada dasarnya tujuan teknik wawancara adalah sama yaitu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Informasi yang ingin diperoleh tentunya berbeda-beda. Contohnya tujuan wawancara seorang guru BK dengan seorang siswa di sekolah adalah untuk mendapatkan informasi mengenai latar bekalang siswa, kendala apa yang dihadapi di mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, masalah pergaulan (ada siswa yang tersisih atau minder).
     Praktisi PIO menggunakan teknik wawancara untuk melihat kualifikasi pelamar kerja. Selain pelamar kerja, praktisi PIO juga menggunakan teknik wawancawa untuk karyawan yang sudah bekerja untuk mendapatkan informasi mengenai pekerjaan dan kendala yang didapat sehari-hari. Praktisi klinis anak dan dewasa menggunakan teknik wawancara untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai subjek.

WAWANCARA PRAKTISI PENDIDIKAN
     Sekarang saya akan membahas lebih spesifik mengenai wawancara dengan salah satu praktisi di bidang pendidikan. Saya bersama anggota kelompok kebetulan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai seorang guru BK di sebuah sekolah. Guru BK ini lulusan S2 dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Jurusan Bimbingan dan Konseling lho! 
     Menurut Beliau, wawancara adalah teknik untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Aplikasi teknik wawancara untuk mengetahui latar belakang siswa dengan menanyakan secara langsung, menggali permasalahan,  memperoleh data, dan lain-lain.
     Kelebihan teknik wawancara menurut beliau adalah dapat memperhatikan atau mengamati ekspresi subjek karena wawancara dilakukan secara tatap muka secara langsung. Kekurangan teknik wawancara adalah kendala komunikasi, terdapat kemungkinan bahwa informasi yang diperoleh tidak tepat sasaran, subjek kurang terbuka, dan subjek keluar dari topik.
     Masalah yang sering muncul ketika wawancara adalah subjek yang kurang terbuka. Penangannya adalah subjek dapat menyampaikan informasi ssecara tertulis.